Model Pembelajaran Kooperatif (Pengertian, Tujuan, dan Unsur Penting dalam Pembelajaran Kooperatif)

Model Pembelajaran Kooperatif (Pengertian, Tujuan, dan Unsur Penting dalam Pembelajaran Kooperatif)
Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok- kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru (Trianto, 2011: 56). Menurut (Isjoni, 2012: 12), pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Sedangkan menurut Sugiyanto, (2010: 33) pembelajaran kooperatif  adalah pendekatan yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran sangat penting dibutuhkan bagi pendidik untuk membantu dalam peruses belajar mengajar dan pemilihan strategi tersebut juga harus tepat karena karakteristik dan gaya belajar siswa berbeda.

Menurut Artzt & Newman (Huda, 2011: 32), “kelompok kecil pembelajaran siswa yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan sbuah tugas atau mencapai suatu tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya”. Pembelajran kooperatif juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa karena selain menciptakan rasa kepuasan pribadi juga dapat menciptakan kepuasan kelompok yaitu keberhasilan kelompok dalam menyelesaikan masalah. Didalam kelas kooperatif, diharapkan para siswa dapat bekerja sama, saling membantu, berdiskusi dan beragumentasi untuk menggali pengetahuan yang dikuasai oleh siswa. Seperti yang diungkapkan oleh Slavin (2010: 4) bahwa “cara belajar kooperatif jarang sekali menggantikan pelajaran yag diberikan oleh guru. Tetapi lebih seringnya menggantikan pengaturan tempat duduk yang individual, cara belajar individual, dan dorongan yang individual”.

Pembelajaran kooperatif menaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah dari konsep menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Trianto (2011: 56) mengatakan “Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat social dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif”.

Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif secara umum yaitu bahwa siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggungjawab. Jonshon (Trianto, 2011: 109) menyatakan bahwa “tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok”. Louisell & Descamps (Trianto, 2011: 109) mengatakan tujuan dari pembelajaran kooperatf yaitu “Karena siswa bekerja dalam satu tim, maka dengan sendirinya dapat memberbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etinis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan proses kelompok dan pemcahan masalah”. Ibrahim dkk. (Trianto, 2011: 111) mengatakan “Tujuan pembelajaran ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan social”. 

Bagaimana Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dengan Konvensional?
Perbedaan kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar konvesiaonal yang disampaikan menurut pendapat dari  Killen (Trianto, 2011: 110) adalah sebagai berikut.

Kelompok Belajar Kooperatif
  1. Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling member motivasi sehingga ada interaksi promotif.
  2. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
  3. Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademis, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebgainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan.
  4. Pemimpin kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok.
  5. Keterampilan social yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan, berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan.
  6. Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru teruss melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antara anggota kelompok.
  7. Guru memperhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
  8. Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antara pribadi yang saling menghargai).

Kelompok Belajar Konvensional
  1. Guru sering membiarkan siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.
  2. Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya mendompleng keberhasilan /pemborong.
  3. Kelompok belajar biasanya homogen.
  4. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok diberikan untuk memilih pemimpinannya dengan cara masing-masing.
  5. Keterampilan social sering tidak secara langsung diajarkan.
  6. Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
  7. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalamkelompok-kelompok belajar.
  8. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.

Dari tujuan pembelajaran kooperatif dan perbedaan dengan pembelajaran konvensional yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa memahami konsep pelajaran atau masalah yang sulit, membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis, dan meningkatkan kerja sama tim dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.

Banyak pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru dalam prosess belajar mengajar. Setiap guru  yang  akan  mengajar dapat memilih strategi, pendekatan, metode, dan model yang baik. Karena baik dan tidaknya suatu strategi, pendekatan, metode, dan model akan digunakan dalam proses belajar mengajar terletak pada  ketepatan  memilih  yang sesuai  dengan  tuntutan  proses belajar mengajar. 

Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku yang baik dalam kelompok atau tim dan hubungan yang lebih baik antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru. Elemen-elemen pembelajaran kooperatif menurut Lie (dalam Sugiyanto, 2010:36) adalah sebagai berikut:
  1. saling ketergantungan positif,
  2. interaksi tatap muka, 
  3. akuntabilitas individual,
  4. keterampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan social yang secara sengaja diajarkan.

Johnson & Suton (Trianto, 2011: 112) membagi lima unsur penting dalam belajar koopertif, yaitu sebagai berikut:
  1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antar siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapi suatu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunayi andil terhadap suksesnya kelompok.
  2. Interaksi antar siswa yang semangkin meningkat. Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk suskses sebagai anggota kelompok. Salaing memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah, karena kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksenya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini siswa membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekolompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperati yakni dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
  3. Tanggung jawab individual. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
  4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan daengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
  5. Proses kelompok. Anggota kelompok mendiskusikan apa yang akan mereka capai dalam diskusi sehingga dapat membuat hubungan kerja yang baik.

Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung prisnsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama dari kooperatif menurut Slavin (Trianto, 2011: 113) yaitu sebagai berikut;
  1. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan juka kelompok mencapi criteria yang ditentuakan.
  2. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain.
  3. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama-sama tergantung untuk melakukan yang terbaik dan bahwa konstribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.

Pembelajaran kooperatif menuntut guru memiliki peran yang berbeda dibandingkan dalam pembelajaran biasa. Agar proses pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja sama secara produktif dalam kelompok, maka guru perlu mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komuniaksi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok. Adapun peran guru dalam pembelajaran kooperatif, sebagai berikut:
  1. Merumuskan tujuan pembelajaran
  2. Menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar
  3. Menempatkan anak dalam kelompok
  4. Menentukan tempat duduk anak
  5. Merancang bahan utuk meningkatkan saling ketergantungan
  6. Menentukan pearan anak untuk menunjang saling ketergantungan
  7. Menjelaskan tugas akademik
  8. Menjelaskan kepada anak tentang tujuan dan keharusan bekerja sama
  9. Menyusun akuntabilitas individual
  10. Menyusun kerja sama antar kelompok
  11. Menjelaskna kriteria keberhasilan
  12. Menjelaskan prilaku yang diharapkan
  13. Memantau prilaku anak
  14. Memberikan bantuan kepada anak dalam menyelesaikan tugas
  15. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja sama
  16. Penutup pelajaran
  17. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar anak
  18. Menilai kualitas kerja sama antara anggota kelompok. (Yusuf, dkk, 2003:175)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa peranan guru dalam pembelajaran kooperatif yaitu membentuk kelompok kooperatif siswa untuk menuntaskan materi belajar dan membentuk kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Model Pembelajaran Kooperatif (Pengertian, Tujuan, dan Unsur Penting dalam Pembelajaran Kooperatif) Model Pembelajaran Kooperatif (Pengertian, Tujuan, dan Unsur Penting dalam Pembelajaran Kooperatif) Reviewed by Rabudin on May 06, 2019 Rating: 5

No comments:

Silahkan tulis komentar anda pada kolom di bawah. Terima Kasih Telah Berkunjung.

Powered by Blogger.